Lhokseumawe, acehmagazine.com Sebuah konferensi berlebel internasional kembali akan digelar akhir Desember nanti di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe. Kali ini, “duek pakat” internasional itu membahas soal pembangunan Aceh. Direncanakan, Konferensi Internasional untuk Pembangunan Aceh Ke-2 itu digelar pada 29-30 Desember mendatang. Kegiatan serupa sebelumnya juga pernah diselenggarakan di University Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia pascatsunami lalu. Konferensi Pembanguan Satu yang disebut PAPA 1 itu menghasilkan seruan umum tentang perlunya perencanaan model pembangunan Aceh setelah tsunami. Untuk konferensi kedua, Unimal mendapat kehormatan menggelar even tersebut. “Sejauh ini persiapan yang matang terus dilakukan oleh panitia,” kata Kepala Bagian Humas Unimal M. Husen, MR, kepada acehmagazine.com, Kamis (13/12). Dia menyebutkan, tujuan kegiatan itu mengembangkan pemikiran demi kemajuan pembangunan di Aceh yang lebih baik serta untuk kemaslahatan masyarakat di tanah rencong. Konferensi internasional tersebut mengusung tema ‘on Aceh development, from a bitter past towars a better’. Sementara Ketua Panitia Al Chaidar, menyebutkan, sejauh ini 20 pemakalah dari Malaysia sudah menyatakan komitmen untuk ambil bagian dalam konferensi pembangunan Aceh itu. “Kalau dari dalam negeri kita berharap, sekitar 30 orang yang hadir,” ujarnya melalui telepon selular. Penulis buku Aceh Bersimbah Darah ini menyebutkan, semua persiapan semakin dimatangkan oleh panitia pelaksana. Dia menambahkan, untuk seluruh peserta dari luar negeri, pihaknya mengundang 40 peserta dari berbagai kampus. “Kita belum tahu pasti total yang hadir. Jumlah ini baru sebatas komitmen,” kata dia. Menyangkut hasil yang diharapkan dari konferensi internasional itu, Al Chaidar mengatakan konferensi akan membicarakan pertanggungjawaban para donor, BRR, UN Agencies dan LSM Asing sebagai “aid predators” dalam proses pembangunan Aceh. “Mereka selama ini hanya menuduh buruknya SDM kita sebagai penyebab melencengnya pertanggungjawaban mereka,” ketus Al Chaidar yang ketika dihubungi masih di Jakarta. Baik Al Chaidar maupun Husen berharap kegiatan terakbar yang baru pertama kali diselenggarakan universitas negeri kedua di Aceh itu berlangsung lancar. “Kegiatan itu positif, apalagi ini kan kajian ilmiah untuk masa depan Aceh. Sehingga hasil dari konferensi nanti, bisa menjadi acuan untuk pembangunan Aceh ke depan,” Safrizal, mahasiswa yang juga Wakil Ketua BEM FISIP Unimal. [ M.Sambo] http://www.acehrecoveryforum.org/id/index.php?action=ARFNews&no=998

sumber www.dikti.org